sebuah kata bernama “Prinsip”

                   Manusia adalah makhluk yang dibekali akal dan fikiran dalam proses penciptaannya. Kemudian dari itu mereka bisa menentukan mana yang baik dan buruk menurut mereka sendiri. Lambat laun hal itulah yang menjadi sebuah konsep yang berjudul “Prinsip”. Setiap orang memiliki prinsip. Ada yang berbeda namun ada juga yang serupa dan serupa tapi tak sama. Hal ini terbentuk dari adanya perbedaan sudut pandang, pola pikir dan sumber bacaan yang dipercaya. Namun tak dipungkiri terkadang ada manusia yang tidak menyadari prinsip apa yang dia miliki. Sehingga ia tergolong bahkan secara tidak langsung digolongkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak ber-prinsip.

                Prinsip tak dapat dihilangkan dari cara seseorang memandang suatu permasalahan yang terjadi. Karena ia berprinsip “A” maka ia tak dapat begitu saja ikut dengan suara kebanyakan atau mungkin sebaliknya. Setiap manusia tidak mampu menghitung ada berapa prinsip yang dianut dalam hidupnya karena begitu banyaknya aspek kehidupan yang mana setiap aspek  individu dituntut untuk memiliki sebuah prinsip.

                Misalnya untuk suatu kasus “A”, antara saya dan lawan bicara akan selalu memiliki perbedaan namun terkadang dalam suatu titik perdebatan memiliki titik temu yang sama namun nantinya belum tentu akan bermuara kepada sebuah kesepakatan. Hal ini disebabkan oleh adanya prinsip tadi. Bagi saya, jika terlibat dalam sebuah perdebatan yang menyangkut prinsip yang dianut masing-masing pihak, saya cenderung mempelajari prinsip yang dianut oleh lawan bicara. Jika dia memiliki prinsip yang lebih berwawasan luas dari apa yang saya anut saat itu tidak ada salahnya saya memperbaharui prinsip saya dalam memandang dan memahami permasalahan sejenis. Toh tujuan sebuah perdebatan atau diskusi adalah untuk memperluas cakrawala. Bukan berarti saya tidak berprinsip lho…  (sejenis pledoi) hahaha

                Namun akan berbeda permasalahan lagi jika seandainya prinsip dari lawan bicara saya bertolak belakang dengan apa yang saya anut dan pahami. Jika hal itu terjadi dan pedebatan kusir tak terelakkan maka saya secara tidak langsung dan sedikit demi sedikit akan mulai menarik diri dari perdebatan itu. Terlebih lagi jika prinsip yang saya yakini telah tertulis dengan “pasti” dalam sebuah kitab yang diyakini telah diwarisi dari zaman dahulu dan juga telah “dijamin” keasliannya oleh Sang Pemilik.

                Atas apa yang saya yakini mengenai sebuah permasalahan “Keyakinan” bahwasanya jika sesuatu yang pastinya akan menjadi sebuah pertanyaan dan perdebatan di masa yang akan datang telah tertulis disana, berarti telah ada ketentuan mutlak yang tak dapat ditawar maka tidaklah sebaiknya saya menawar hal itu meskipun dengan dalih ingin membuktikan dan mencari kebenaran. Karena Sang Sutradara tentu telah mengetahui jalan cerita “film” yang dibuatnya dari awal hingga akhir nanti.

                Oleh karena itulah, jika saya bertemu atau terjebak dalam sebuah diskusi yang meyangkut prinsip utama dalam hidup seperti hal tadi, maka saya lebih memilih jalan mengalah. Bukankah mengalah tidak berarti kalah? Hal itu saya lakukan sebagai bentuk penghormatan atas prinsip yang dimiliki setiap individu. Bagi saya, prinsip yang saya anut jika terkait masalah “pokok” adalah bukan awal atau proses dalam memandang suatu permasalahan. Tapi hasil akhir dari permasalahan itu tadi, apakah telah ditentukan atau belum. Jika telah dicantumkan dalam “wasiat” tadi dan nyatanya itu sudah termasuk ke dalam kategori dilarang, mengapa saya harus menggunakan WH Question lagi? Menerima dan meyakini tidak selalu berarti “hanya” men-cawan seutuhnya bukan?

                Semuanya kembali kepada alasan utama penciptaan manusia tadi yang telah dibekali dengan akal dan pikiran. Kembali ke prinsip saya lagi, jika telah ada aturan “mutlak” yang tidak dapat diganggu-gugat dilangit dan dibumi, buat apa buang-buang energi menggali dan membuat pandangan baru yang berbeda. Masih banyak aspek kehidupan lainnya yang patut dipecahkan. Seperti soal-soal matematika, fisika, kimia yang semakin hari selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan baru yang sulit dipecahkan.

                Bukankah penggunaan akal dan pikiran untuk hal-hal yang demikian dan sejenisnya jadi lebih bermanfaat? Yaaaaa…itu tadi kembali ke P-R-I-N-S-I-P tadi. Jadi marilah kita saling menghormati prinsip orang lain. Karena pada akhirnya dalam keyakinan saya “untukmu agamamu,untukku agamaku”. Jika tak bisa diarahkan ke jalan yang benar kenapa musti dipaksakan? Toh kita sudah berusaha mengingatkan. Terpenting dari semuanya adalah silahturahmi tetap terjaga.

                Pegel juga otak kalo dibawa menulis serius seperti ini. Tapi tak apa-apa, sesekali otak juga butuh olah raga tho?? Saya tak bermaksud apa-apa dengan tulisan saya. Ini adalah sebuah pemikiran yang telah lamu ingin saya tulis namun terkendala dengan kata-kata apa yang seharusnya ditulis. Balada penulis amatiran huahahahaha… Jadi, semua kembali kepada prinsip masing-masing tadi. Tidak ada bermaksud memutus mana yang benar dan yang salah karena saya bukan manusia ber-palu atau “diatas” itu. Hehehehehe…

Sekian dan terima pitih.

Benci sebagian diri sendiri

Mood-ian,..

Entah bahasa serapan yang benar atau tidak, saya tidakbegitu paham. Akan tetapi kata itu mewakili diri saya saat ini. Mood-ian ini istilah yang sering saya dengar dan pakai untuk menentukan sikap atau perasaan seseorang. Di luar benar atau tidaknya apa yang saya tulisankan, kali ini saya tidak akan membahas mengenai kebenaran ataupun sejarah dari kata itu.

Kata tadi merupakan gambaran diri saya saat ini. Suatu perasaan yang membawa saya seperti orang menderita sedunia atau bahkan lebih buruk lagi. Saya tidak tau pasti akan perasaan yang sangat mengganggu ini. Namun yang pasti saya sangat merasa terganggu olehnya. Jika disuruh memilih, maka saya akan memilih untuk tidak menerima perasaan ini. Tapi apa daya rasa dan perasaan itu datang dengan sendirinya tanpa saya undang.

Tak heran jika banyak teman yang mengatakan saya itu orangnya galau lah, lebay lah atau sensi tidak jelas. Hal itu sering terjadi jika perasaan itu datang. Saya menjadi orang yang sangat sangat tidak jelas bahkan tak jarang saya malah membenci diri saya jika saya sedang dalam keadaan seperti itu. Tak terkecuali juga dengan saat ini.

Saya ingin sekali bisa menjadi orang yang mengontrol diri dan perasaan saya seniri. Bukan malah sebaliknya. Saya sangat menyadari bahwasanya keadaan seperti ini bisa saya atasi jika mampu. Tapi saya sendiri tidak mampu untuk itu. Sehingga tak jarang saya merasakan hal-hal aneh di dalam diri saya.

Sesaat saya ingin berteriak sekencang-kencangnya atau marah kepada orang lain tanpa tahu apa hal yang akan saya marahi. Atau kadang saya merasa sensi sendiri, paling buruk sendiri pokonya menjadi orang yang benar-benar pesimis. Mungkin hal terkhir yang terlintas adalah ingin sekali mengakhiri hidup saya sendiri. Namun alhamdulillah, hingga detik ini saya masih waras dan mampu menahan diri untuk itu.

Sekarang ini saya benar-benar merasa down. Entah kenapa saya menjadi minder dengan orang-orang di sekitar saya. Saya menyadari kalau saya tidak mempunyai kelebihan apapun dibandingkan dengan teman-teman saya. Baik dari segi fisik maupun sikap.

Fisik, saya tidak cantik maupun manis. Tidak untuk kedua kategori itu. Saya juga tidak memiliki kulit putih yang menjadi idaman para wanita dan incaran para pria sebagai standar wanitanya. Saya juga tidak pandai berbicara dan bercanda. Seringkali terngiang-ngiang di benak saya orang-orang yang sering memarahi saya dengan mngatakan bahwa saya tidak bisa berdiplomasi lah, lugu lah, dan lainnya. Hal itu selalu terngiang-ngiang dalam benak ini. Saya tidak bermaksud mengingat hal-hal yang demikian namun hal yang demikian itu datang dengan sendirinya kepada saya. Lagi-lagi saya tak mampu untuk menolaknya. Sehingga tak jarang saya jadi minder dengan teman-teman saya yang pandai berbicara, bercanda dan berdiplomasi. Sehingga mereka dikelilingi banyak teman. Sementara saya hanya kebalikannya. Teman yang lain masih di hubungi oleh teman yang lainnya. Mereka masih saling berkomunikasi. Sementara saya? saya terkadang telah beritikad baik untuk memulai percakapan terlebih dahul namun entah memang karena saya orang yang tidak manis apalagi cantik dan tidak menarik dari segi fisik dan sisi kepintaran bercanda, mereka jadi enggan menghubungi saya. Saya jadi merasa kalau saya ini mungkin orang yang membosankan, tidak menyenangkan, tidak pandai berbicara juga tidak enak dipandang.

See?

Bagaimana kata-kata pesimis itu bermunculan dalam benak saya saat ini?  Saya memang aneh, mengetahui hal itu tapi tak mampu untuk menangkal dan menghindarinya. Maka tak berlebihan jika pada judul saya menulis kalua saya membenci diri saya sendiri jika saat-saat seperti ini.

Rasanya ingin berteriak tapi tak mampu untuk itu. Saya benar-benar kacau dan down. Sekarang saya merasa tak akan ada orang yang mampu dan mau membantu saya sekarang. Karena saya terlalu aneh dan orang-orang tidak suka dengan orang seperti saya yang aneh dan tidak enak di pandang ini. Sudah menjadi hukum alam jika orangnya cantik meskipun kurang menyenangkan pasti akan tetap dikelilingi banyak teman.Atau mungkin orang yang tidak menarik namu pandai bergaul dan berbicara akan tetap banyak teman. Sementara saya? akh sudah jangan di bahas lagi. Semakin dibahas semakin benci saya dengan diri saya sendiri yang seperti ini.

Saya hanya mampu berharap semoga badai aneh dalam diri sendiri ini segera berlalu dan saya bisa mencari kesenangan apa yang sanya butuhkan.

At the moment, I really hate myself!!!!

saya sengaja menulis lebih panjang dan rapat agar tidak ada orang yang tertarik membacanya. Haha. saya hanya ingin sekedar menulis dan memposting hal ini sebagai bentuk pengaliran energi negatif yang ada dalam diri saya sekarang ini.

Terimakasih banyak telah membaca apalagi memberikan masukan. Semoga saja ada seorang Psikolog yang mau membantu saya untuk mengatasi hal ini dan secara gratis tentunya.hahaha

The cat which saved my dinner and my room too..

Ini kejadian yang saya alami selang 1 jam yang lalu. Semua berawal dari dua nasib saya, pertama nasib sebagai anak kos yang mana harus memikirkan makan sendiri. Hal yang berbeda ketika kita seatap dengan orang tua setidaknya tdak lagi memikirkan makan apa,tapi tinggal makan apa yang telah tersedia. Kedua adalah yang terpenting, persyaratan mutlak untuk mendapatkan menu makanan yang telah dipilih. Saya adalah seorang karyawan yang tidak salary days di akhir atau di awal bulan. Yap, hampir ke pertengahan bulan hari kemerdekaan perut kantong kami. Itulah yang terjadi hari ini. Mendekati hari kemerdekaan, persediaan logistic telah menipis seiring menipisnya kantong.

Today was the last day because tomorrow is my the independence day.

Dari kalimat yang belum pasti kebenaran tulisannya diatas, dapat ditebak bagaimana keadaan kantong saya pada detik-detik pergantian hari ini. Hasil setelah berhemat semenjak 4 hari yang lalu pun terlihat nihil karena malam ini saya terancam tidak bisa makan malam. Yes,You`re right!!! uang saya HABIS!!! HAHAHAHAHA.. tidak habis hingga Rp, 0,-  juga tapi tersisa Rp, 2000,- dan dengan segitu saya musti beli apa? (ok, jangan jawab mie instan, karena saya sedang berusaha tidak berdamai dengan itu meskipun sudah nyetok ). Maka sejam sehabis jam makan siang otak saya telah berfikir hendak makan apa malam ini. Hingga jam 5 sore saya tetap tidak mendapat jalan keluar *putus asa jadi ingin jual mobil manager* lho?! Tapi memang benar kata pak ustad, kalo ada apa-apa laporlah kepada Sang Pemilik Segalanya. Berbekal doa khusyuk setelah ashar dan maghrib, saat hendak pulang ke kosan, entah kenapa orang accounting hinggap sejenak di tempat saya dan beliau membawa kresekan yang berisi telur asin. Pucuk dicinta ulam pun tiba, maksud hati hanya bertanya membawa apa, apa daya saya ditawarkan telor asin. Tak mau menolak rezeki karena memang tak ada doanya, saya pun menerima dengan hati senang dan senyum lebar yang di sembunyikan…hahaha *gengsi donk*

Pulang dengan perasaan antara senang dan sedih, senang karena akhirnya mendapat ganjalan perut malam ini dan sedih karena mengingat akan makan malam hanya dengan telur asin. Tidak terlalu menyedihkan sih jika dinikmati…hahahha. Sesampainya di kosan, ternyata teman depan kamar baru saja mengeluarkan anak kucing (yang kelak dipanggil “Boy” oleh saya) dari kamarnya.penyelundup, hahaha. Memang dasarnya pecinta kucing, saya pun girang melihat si boy dan memanggilnya untuk masuk ke kamar. Hewan peliharaan dapat mengobati stress bukan? dan memang sejurus kemuadian mood saya membaik dan rasa penat mulai menghilang dari tubuh saya.

Selesai berberes, saya merasa kalo si boy ini kelaparan seperti saya juga karena selalu mengeong-ngeong semenjak dekat saya. Sedih saya bertambah, karena biasanya sisa makan malam saya yang berupa tulang belulang terbuang sia-sia tanpa ada yang memakannya (kucing yaaa). Namun disaaat saya tak sanggup membeli nasi dan lauk malah ada anak kucing yang nyasar ke kosan. Akhirnya berbekal dua telor asin hasil pemberian tadi, saya pun memakannya dengan si boy, tapi ya namanya kucing, dengan sopan ketika saya beri dia memakannya meskipun ujungnya dia tidak suka. Habis telor yang pertama, saya merasa cukup kenyang tapi si boy masih ribut, saya jadi tidak tega.

Dengan rasa iba yang menggebu-gebu di dada, saya pun berniat membelanjakan uang sisa saya tadi untuk si boy. Ya sekedar untuk beli lauk dia saja. Saya pun membongkar tas mencari recehan 500. Setelah terkumpul saya pun bersiap hendak ke warung, namun saya teringat sesuatu saat saya membongkar salah satu  saku tas saya. YAAAAA…saya ingat kalau saya pernah menyelipkan uang di tempat penyimpanan surat penting di tas dan memang benar, selembar uang bewarna biru bertengger cantik disana. Perasaan yang sangat sangat senang hingga tak bisa dilukiskan membuat saya girang tak terkira, mulut saya tak lepas dari ucapan hamdalah dan terimakasih kepada si boy. Karena si boy dan lewat si boy ALLAH SWT mengingatkan saya akan keberadaan uang itu.

Segera saya berlari ke warung dan membeli nasi serta dua lauk. Satu lauk untuk si boy. Selesai membeli nasi, hujan pun turun. Berlari-lari kecil menuju kosan membuat saya sejenak seperti berada dalam sebuah cerita yang sedang di film kan,.rasa bahagia bisa makan malam ini dan rasa ingin segera berbagi dengan si boy. Benar-benar seperti berada dalam sebuah cerita film.

Sampai di kosan, si boy yang sengaja saya kunci di kamar telah menanti dengan sabar. Sejurus kemudian kami pun makan dengan lahapnya. Hmmm….meskipun yang tersisa di warung hanya nasi putih dan ayam goreng saja, tapi ntah kenapa rasanya jadi selezat makan seafood di restoran mahal dibayarin lagi.😀

Ketika kami sedang makan, saya menikmati nasi dan lauk sementara si boy hanya mau lauknya saja, tetiba di depan kami melintas seekor laba-laba besar. Takut tidak takut tapi saya takut juga karena terbayang jika laba-labaini  nanti melintas di tempat tidur ketika saya terlelap. Horor juga. Saya pun segera mencari senjata untuk mengusir bahkan membunuh di laba-laba, sendal rumah!! yap hanya itu benda terdekat dari  saya saat itu. Mengambil ancang-ancang untuk menyerang, tiba-tiba tanpa saya minta pertolongan, si boy yang tengah asyik makan, bergerak dan mengejar si spider hingga mendesaknya ke pintu. Alhasil si adult spider itupun terpojok dan menemukan rongga pintu hingga bisa menyelamatkan diri keluar.

Lagi-lagi saya ditolong oleh boy. Selang kurang dari 1 jam, boy telah menolong saya dua kali. Entah bagaimana jika saya tidak bertemu boy. Selesai makan saya pun bersegera menunaikan kewajiban yaitu sholat isya serta tak hentinya berucap syukur kepada-Nya. Sementara itu boy tidur dengan pulasnya. Namun, beberapa saat sebelum tulisan ini selesai, boy terbangun dan meminta keluar dari kamar.

Terimakasih boy, terimakasih untuk dinner malam ini dan pemburuan spider yang mana keduanya telah menyelamatkan saya malam ini.

Semoga besok saya bisa bertemu lagi dengan si boy. Thank you, dude!!! (langsung jadi sodara)🙂

Sekian cerita saya dan si boy malam ini. Maaf jika kepanjangan dan membosankan tapi terimakasih banyak telah menyempatkan untuk membacanya hingga ke kalimat ini. Saya mau lanjut nonton Running Man Ep.140 duyuuuu… :3  Sampai jumpa kengkawaaaaannnn………….

Khamsahamniddaaaa…🙂